Tur Virtual Lombok: Dari Desa Adat, Legenda Putri Mandalika, Hingga Masjid Tiga Abad

Minggu lalu, TelusuRI jalan – jalan bareng menyusuri Pulau Lombok. Tur virtual Lombok kali ini sangat menarik. Ditemani Mas Adam dan Mas Ingga dari Prikitrip, kita tidak hanya diajak menyusuri Lombok dengan segala keunikan cerita dan tradisi budayanya, tapi dapat juga melihat tempat menikmati senja dan tips foto ‘instagramable’ yang menjadi daya tarik tambahan tur virtual ini.

Mas Adam adalah seorang pemandu di Prikitrip, dan akan menjadi pencerita pada tur virtual kali ini. TelusuRI juga ditemani Mas Ingga sebagai pejalan tamu. Selain tergabung dalam Prikitrip, ia juga seorang fotografer perjalanan yang telah bekerjasama dengan banyak artis dan berdomisili di Lombok. Terkenal dengan akun Instagramnya, @debucung, tentunya beliau sudah tidak asing lagi dalam hal mengambil gambar di tempat-tempat cantik di pulau Lombok.

[Lihat juga: 10 Hotel Terbaik di Lombok]

Desa Sade

Rumah adat Desa Sade, Lombok.
Rumah adat Desa Sade, Lombok.

Perjalanan kali ini dimulai dari desa adat yang cukup terkenal di Lombok, Desa Sade. Di Desa Sade, rumah-rumah penduduknya masih sangat asli; dindingnya terbuat dari bedek atau anyaman bambu, atapnya terbuat dari jerami, lantainya pun masih tanah. Ini merupakan konstruksi khas rumah adat Sasak yang merupakan suku asli di Lombok. “Uniknya sebulan sekali mereka mengepel lantainya dengan menggunakan kotoran sapi atau kerbau, katanya supaya lantainya ngga retak, karena masih terbuat dari tanah,” Mas Adam menambahkan.

Perajin tenun Desa Sade, Lombok.
Perajin tenun Desa Sade, Lombok. Editorial credit: Bastian AS / Shutterstock.com

Selain rumah adatnya, yang ikonik, tanda mata yang dijual oleh warga lokal juga beragam. Cendera mata yang khas adalah kain tenun dan gelang. Tenun yang dijual di sini juga diproduksi di Desa Sade dengan menggunakan pewarna alami. Ketika berkunjung kita juga diperbolehkan berfoto sambil memakai salah satu kainnya. Gelang-gelang yang dijual di sini unik dan berwarna-warni. Ditambah lagi, gelang-gelang ini boleh ditawar, loh, oleh pengunjung. Selain kain dan tenun, kopi juga menjadi hal yang unik untuk dicoba. Khususnya di Desa Sade, kopi yang disajikan berbeda dari kopi-kopi pada umumnya. Kopi yang dijual di Desa Sade ini telah dicampur dengan tumbukan beras. Asal-muasalnya pada kala itu, sebelum pergi bertani, mereka tidak sempat makan pagi, maka dengan meminum kopi yang dicampur bubuk beras mereka mengaku merasa lebih kenyang sehingga tidak perlu sarapan.

Prosesi Adat

Pernikahan Suku Sasak biasanya diiringi oleh tarian gendang beliq
Pernikahan Suku Sasak biasanya diiringi oleh tarian gendang beleq.

Tentunya jika membicarakan desa adat, terbesit di benak kita tradisi atau prosesi khas yang dilakukan masyarakat sekitar. Tradisi adat khas Sasak dapat dilihat dari prosesi pernikahannya. Pernikahan Suku Sasak biasanya diiringi oleh tarian gendang beleq. Sesuai dengan namanya, ‘beleq’ artinya ‘besar’, tarian ini ditarikan sambil memainkan gendang yang sangat besar. Tarian ini biasanya dilakukan untuk prosesi nyongkolan, dimana setelah pasangan menikah mempelai wanita akan dihantarkan pulang ke rumah keluarganya. Namun, pasangan yang melakukan prosesi ini hanyalah mempelai yang memiliki gelar bangsawan. Di Lombok, yang tergolong bangsawan adalah adalah kasta Lalu untuk mempelai pria dan Baiq untuk mempelai wanita.

Jajaran Bukit dan Pantai

Bukit Seger Lombok
Panorama Bukit Seger yang terkenal karena legenda Putri Mandalika

Lombok sudah dikenal memiliki jajaran bukit dan pantai yang indah. Beranjak dari Desa Sade, kita diajak ke Bukit Seger yang berada di dekat Kuta Mandalika. Di sini Mas Adam menceritakan sebuah legenda Bukit Seger yang terkenal di Lombok.

Pada zaman dahulu, ada seorang putri raja yang sangat cantik bernama Putri Mandalika. Kecantikannya ini mengundang banyak pangeran dari kerajaan-kerajaan di sekitar Lombok untuk melamarnya. Karena sang raja sangat bijaksana, ia membiarkan putrinya untuk memilih pasangannya. Setelah diberi waktu cukup lama untuk memutuskan, sang putri pun memanggil kembali para pelamarnya. Dari atas Bukit Seger, tidak disangka-sangka beliau mengumumkan bahwa ia menerima semua lamaran para pangeran. Tidak lama setelah mengumumkan hal itu, sang putri kemudian berlari dari atas bukit dan menjatuhkan dirinya ke laut. Para pangeran pun segera mengejar dan mencoba menyelamatkan Putri Mandalika. Namun tubuh sang putri menghilang digantikan oleh cacing-cacing yang disebut nyale.

Nyale atau cacing
Menurut cerita, Putri Mandalika menghilang dan digantikan oleh nyale atau cacing. Editorial credit: Novie Charleen Magne / Shutterstock.com

Legenda ini kemudian diperingati oleh masyarakat sekitar dalam Festival Bau Nyale yang  diadakan setiap tahun sekitar bulan Februari hingga Maret. Pada perayaan ini banyak orang yang mengikuti prosesi bau nyale atau ‘mencari nyale’ di Pantai Seger. Menariknya, nyale yang berbentuk seperti cacing ini, bisa langsung dimakan mentah-mentah atau dimasak menjadi pepes.

Suasana Festival Bau Nyale Lombok
Suasana Festival Bau Nyale Lombok. Editorial credit: Novie Charleen Magne / Shutterstock.com

Selain Pantai Seger, Mas Adam juga merekomendasikan Pantai Tanjung Aan dan Selong Belanak untuk mengejar senja. Untuk belajar selancar Pantai Selong Belanak adalah tempat yang pas. Hal ini dikarenakan kontur pantainya yang landai dan ombaknya yang tidak terlalu besar, sehingga memudahkan para peselancar pemula.

Pantai Selok Belanak
Gembala dan kawanan kerbau yang melewati Pantai Selong Belanak di sore hari.

Masih berada di jajaran Bukit Seger, salah satu bukit yang juga terkenal di Lombok adalah Bukit Merese. Bukit ini adalah tempat yang tepat untuk menikmati senja. Bentangan bukit yang berada di pinggir laut menjadikan setiap sisinya indah untuk difoto.

Bergeser dari daerah pantai, kita menuju ke daerah kaki gunung Rinjani. Ada sebuah tempat yang cantik bernama Bukit Pergasingan. Kalau suka berkemah, Bukit Pergasingan adalah tempat yang tepat untuk dikunjungi.

Kemah di Bukit Pergasingan
Kemah di Bukit Pergasingan

Mas Adam bercerita, di sini biasanya akan dipenuhi kabut yang menakjubkan ketika siang hari. Lalu pada malam hari, wisatawan bisa menikmati pemandangan Desa Sembalun yang lampu-lampunya gemerlap dan berbentuk seperti paha ayam. Namun, daya tarik andalan Bukit Pergasingan yang wajib dilihat adalah pemandangan fajar di pagi hari.

Memetik Stroberi di Sembalun

Wisata petik stroberi di Sembalun
Wisata petik stroberi di Sembalun. Editorial credit: Rongaphotography / Shutterstock.com

Setelah menikmati pantai dan bukit, Mas Adam mengajak kita mengunjungi Desa Sembalun. Berada di lembah yang dikelilingi bukit – bukit, pemandangan di Desa Sembalun ini sangat hijau. Hamparan sawah-sawah luas yang mengelilingi desa ini menambah syahdunya pemandangan. Karena merupakan daerah perkebunan dan persawahan, Desa Sembalun menjadi sumber produksi hasil bumi Lombok.

Aktivitas yang paling sering wisatawan lakukan di Sembalun adalah memetik stroberi. Dengan hanya membayar Rp5.000 untuk tiket masuk, kita bisa memetik sambil mengudap stroberi yang kita petik langsung. Ketika masuk, kita akan diberikan ember kecil sebagai wadah stroberi petikan kita. Setelah selesai memetik, ember tersebut akan dimasukan ke wadah plastik kemudian ditimbang. “Kisaran harganya Rp5.000 untuk wadah mika yang kecil, Rp10.000 untuk ukuran sedang, dan Rp50.000 untuk ukuran besar,” jelas Mas Adam.

Masjid Tertua di Lombok

Masjid Kuno Bayan yang telah berusia tiga abad
Masjid Kuno Bayan yang telah berusia tiga abad. Editorial credit: Ramantara / Shutterstock.com

Masjid Kuno Bayan adalah masjid tertua di Lombok. Umurnya sudah mencapai tiga abad, dan bangunannya berdinding bedek, sama seperti rumah adat Sasak. Di dekat Masjid Bayan terdapat bangunan makam salah satu pemuka agama yang pertama kali membawa agama Islam ke Lombok. Jika diperhatikan, masjid ini memiliki pintu yang pendek. Mas Adam menjelaskan bahwa ukuran pintunya memang sengaja dibuat pendek agar orang – orang yang masuk harus menunduk ketika masuk. Ternyata, menunduk dianggap sikap menghormati orang yang sudah lebih dulu berada di dalam.

Kuliner Khas Lombok

Ayam Taliwang
Ayam taliwang dan plecing kangkung adalah kuliner Lombok yang paling terkenal

Tentunya, jalan-jalan belum lengkap jika belum mencicipi kuliner lokal yang khas. Pada tur virtual kali ini Mas Adam memperkenalkan makanan khas Lombok, yakni Ayam Taliwang dan Sate Rembiga. Ayam Taliwang yang direkomendasikan oleh Mas Adam adalah Ayam Taliwang Pak Udin yang katanya cukup terkenal di Lombok. Mas Adam juga menyarankan untuk memesan sambal terung yang bernama beberuk ketika makan di sini.

[Baca juga: Berburu Oleh-Oleh Khas Lombok]

Sate ayam Rembiga
Proses pembuatan sate rembiga khas Lombok

Selain Ayam Taliwang Pak Udin, satu lagi kuliner wajib rekomendasi Mas Adam adalah Sate Ayam Rembiga Ibu Sinnasih. Menurut Mas Adam, sate ini sangat enak karena daging ayam yang disate sudah direndam dalam bumbu selama dua hari. Tidak sedikit juga para wisatawan yang bersedia membungkus dan membawa sate ini pulang ke kota asalnya.

Artikel ini adalah kerja sama Wego dengan TelusuRI. Baca cerita seru lainnya seputar Indonesia di situs TelusuRI.

Tentang Travel Blog Wego Indonesia:

download app wego

Travel Blog Wego Indonesia adalah media daring milik Wego Indonesia yang menyajikan informasi seputar perjalanan, ditulis oleh tim redaksi dan kontributor. Saat ini  didukung kanal media sosial Wego ID di TwitterFacebook, dan Instagram.

Wego sendiri adalah situs dan aplikasi pembanding harga tiket pesawat serta hotel. Wego menyajikan informasi harga dari ratusan situs agen wisata, maskapai, dan jaringan hotel dunia, dalam satu tampilan sederhana. Dengan menggunakan Wegomencari tiket pesawat dan hotel sesuai bujet dan preferensi akan lebih cepat dan mudah!