Serunya Puasa 19 Jam Sambil Misi Budaya di Spanyol

Juli 2015 lalu, Tim Tari Paramadina atau T-Ta Paramadina berangkat menuju Spanyol, negeri eksotis yang tidak hanya terkenal dengan tim sepak bolanya, tetapi juga olahraga adu bantengnya. Dalam rangka mempromosikan seni tari Indonesia di International Folklore Festival, T-Ta Paramadina menghabiskan Ramadan dan Lebaran di Negeri Matador. Simak keseruan mereka menjalankan misi budaya sambil menunaikan ibadah puasa berikut ini.

T-Ta Paramadina selalu membentangkan kain merah dan putih di tiap akhir pertunjukan mereka di Spanyol. (Dok: @ttaparamadina/Wening Eggy).

Puasa 19 Jam di Spanyol

“Pertamanya agak kaget, karena pukul 10 malam waktu setempat, matahari baru tenggelam, sedangkan kita sahur pukul 03.00 pagi,” buka Gilang Hendyanto, ketua kontingen misi budaya T-Ta Paramadina 2015.

Kontingen Indonesia di depan Kedutaan Besar RI di Madrid, Spanyol. (Dok: @ttaparamadina/Wening Eggy).

Saat berangkat, tepatnya 7 Juli 2015, tim tari Universitas Paramadina yang ia ketuai memang sedang dalam keadaan berpuasa. Gilang bersama 21 penari dan pemusik, 1 fotografer, 2 pelatih, dan 1 pendamping dari kampus terbang ke Bandara Barajas Madrid, kemudian melanjutkan perjalanan dengan bus ke Berango, Bilbao, lokasi pertama festival mereka.

Berango yang terletak di Spanyol bagian utara merupakan sebuah kota kecil yang sangat cantik. Terletak kurang lebih 30 menit naik trem dari pusat kota Bilbao, Berango yang terlihat seperti negeri dongeng menjadi destinasi misi budaya pertama tim tari yang sudah berdiri sejak tahun 2009 ini.

“Waktu sampai di Berango, Spanyol memang sedang musim panas. Jadi udaranya kering tetapi banyak angin dan dingin… Itu cobaan puasanya, sih,” jelas Ezelinnata, salah satu penari T-Ta Paramadina.

T-ta paramadina spanyol
Di jalan menuju Berango. (Dok @ttaparamadina/Wening Eggy).

Memang, karena sedang musim panas, siang hari di Berango jadi lebih panjang. Jadi teman-teman kontingen Indonesia harus rela berpuasa 19 jam; dari pukul 04.00 pagi hingga 10.00 malam.

“Sudah gitu, kita biasanya tampil jam 11.00 atau 12.00 malam. Jadi dulu waktu magrib, cuma minum seteguk dan sudah harus ke panggung,” kenang Ezel.

T-Ta Paramadina Spanyol
Salah satu potret penampilan T-Ta Paramadina saat misi budaya. (Dok: @ttaparamadina/Wening Eggy).

Sahur di Berango juga merupakan cerita unik. Tim yang sudah membawa rice cooker, ikan teri, rendang, mie instan, dan makanan lain yang awet sebulan, selalu tidur setelah sahur. Jadi saat sampai di GOR tempat menginap, mereka langsung siap-siap untuk segera memasak nasi dan sahur.

“Biasanya habis tampil, langsung evaluasi (penampilan-Red), dan baru lanjut makan sahur. Ada juga yang curi-curi kesempatan untuk salat tarawih sambil menunggu nasinya matang,” cerita Gilang.

Sensasi Berpuasa di Berango, Bilbao

Cobaan lain saat berpuasa di Berango ternyata datang dari makanan lokal seperti salad, patata, dan ayam kalkun yang enak dan segar karena berasal dari perkebunan dan peternakan warga sekitar. Menurut Gilang dan Ezel, dari 22 mahasiswa yang ikut, hanya ada dua orang saja yang berpuasa setiap hari. Sisanya selalu tergantung kondisi badan dan godaan makanan.

Kata Gilang, di Berango makanannya enak-enak, kokinya baik, dan mereka selalu bisa nambah. “Segar gitu apalagi pas siang hari disuguhkan salad. Pokoknya semua yang disediakan di sana fresh dan enak-enak,” ujar Gilang bersemangat.

Salad segar penggugah selera. (Dok: @ttaparamadina/Wening Eggy).

Menurut keduanya, yang kini sudah jadi alumni T-Ta Paramadina, Berango adalah destinasi yang cantik untuk dikunjungi. Deretan rumah khas Eropa dengan tembok krem dan tanaman bunga bermekaran di tiap rumah, membuat desa mungil ini sangat romantis untuk jadi tempat menghabiskan masa tua bersama pasangan. Meski tidak berbicara bahasa Inggris, masyarakat Berango selalu ramah dan sabar menghadapi pendatang yang bertanya.

Saat makan malam. (Dok: @ttaparamadina/Wening Eggy).

Yang paling menarik, T-Ta Paramadina merupakan kontingen asal Asia pertama yang pernah mengikuti festival yang diadakan setiap 3 tahun sekali tersebut. Makanya, tak heran kalau warga setempat sangat memanjakan kontingen Indonesia. Sampai-sampai, para koki yang selalu memasak untuk mereka, melepas tim T-Ta Paramadina dengan tangis haru setelah 8 hari tinggal dan menghibur masyarakat Berango.

Berango Bilbao Spanyol
Berango, kota mungil yang tenang dan romantis. (Dok: @ttaparamadina/Wening Eggy).

Lebaran Kecil-Kecilan di Narón, A Coruña

Setelah menghabiskan 8 hari di Berango dan 2 hari di Lugo, kota yang lebih modern dari kota sebelumnya, T-Ta Paramadina sampai di destinasi ketiga festival, yaitu Narón, A Coruña. Di kota yang masih seperti kota kerajaan zaman dulu ini, Tim T-ta Paramadina merayakan Idul Fitri. Jauh dari keluarga, jauh dari kemeriahan takbir, dan jauh dari santapan khas Lebaran sudah diantisipasi oleh tim yang selama festival membawakan 7 tarian Nusantara tersebut.

T-Ta Paramadina Spanyol Coruna
Saat Lebaran di Coruna. (Dok: @ttaparamadina).

“Dari sebelum berangkat memang kita sudah janjian. Bawa kaftan, bawa baju koko, pokoknya bawa baju buat dipakai saat Lebaran di Spanyol,” cerita Ezel sambil tertawa kecil mengenang kelucuan saat berusaha menghidupkan suasana Lebaran di negeri orang.

Tidak hanya itu, ternyata mereka rela bangun lebih pagi, memakai pakaian terbaik, dan menyantap banyak makanan khas Indonesia yang dibawa khusus untuk hari itu. “Rendang yang kita bawa baru kita makan saat Lebaran itu,” tambah Gilang.

T-Ta Paramadina Spanyol
Pose bersama kontingen lain dari berbagai penjuru dunia. (Dok: @ttaparamadina/Wening Eggy).

Tak heran, kemudian saat masuk waktu sarapan untuk seluruh kontingen, anggota T-Ta Paramadina mencuri pandangan kontingen dari negara lain yang masih berpiyama.

“Jadi dari Indonesia sendiri yang cetar, kita pakai pakaian yang rapi dan sudah cakep. Sedangkan yang lain masih pakai baju tidur atau celana pendek di ruang makan,” tawa Gilang.

Meskipun jauh dari rumah dan hanya bisa merasakan meriahnya Lebaran selama beberapa jam—karena sudah harus siap-siap untuk tampil kembali—pastinya pengalaman Lebaran di negeri nun jauh di sana tidak akan pernah mereka lupakan.

T-Ta Paramadina Spanyol
T-Ta Paramadina juga parade dan menari tarian tradisional di jalan, lho! Keren! (Dok: @ttaparamadina/Wening Eggy).

Lepas bulan Ramadan, tim tari T-Ta Paramadina tetap melanjutkan misi budayanya hingga lebih dari 2 minggu di Spanyol sebelum pulang ke tanah air. Mereka berkeliling ke lima kota lainnya di Spanyol untuk membawakan tari Ratoeh Jaroe (Aceh), Betawi Kembang Rumpi (DKI Jakarta), Gaba-gaba (Maluku), Mambre (Papua), Zapin Langkak Pesisir (Riau), Gentheng (Kalimantan Barat), dan Piring Indang (Sumatera Barat) demi mempromosikan budaya dan seni tari Indonesia.

Baca juga:

– Bepergian ke Luar Negeri Saat Puasa? Cek Perbedaan Durasinya

– Fanoos, Lentera Cantik di Langit Ramadan

– Mengenal Chiba, Kota Ramah Muslim di Jepang