Alfonsa Horeng_WTID Talk 4

Perempuan, Pariwisata, dan Pandemi: Pelestari Tenun Ikat Alfonsa Horeng Tetap Berdaya dan Bergiat

Satu tahun yang lalu, tidak ada seorang pun yang menyangka bahwa pandemi akan memberi dampak begitu besar bagi kehidupan sehari-hari. Masyarakat yang berpenghasilan di sektor pariwisata merupakan salah satu yang merasakan hantaman paling besar sejak merebaknya pandemi COVID-19.  Berdasarkan data yang diperoleh dari Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), sektor pariwisata telah mengalami kerugian hingga Rp85,7 triliun akibat jumlah pengunjung yang menurun drastis di masa pandemi. Dampak dan kerugian tersebut menjadi tantangan besar yang harus dilewati untuk bisa bertahan, khususnya bagi perempuan yang banyak berkecimpung di industri tersebut.

UN Women menyatakan bahwa partisipasi perempuan merupakan kunci untuk mengatasi dampak sosial serta ekonomi yang dialami negara-negara yang berhasil membendung gelombang pandemi COVID-19. Peran tersebut tak lepas dari nilai ketahanan (resilience) yang dimiliki kaum perempuan. Untuk menyoroti peran perempuan dalam menghadapi dampak pandemi di sektor pariwisata, organisasi Women in Tourism Indonesia dan Roote Trails mengadakan seri keempat dari webtalkshow International WTIDtalk yang bertajuk “Building Resilience During COVID 19: Stories of Hope and Inspiration of Women in Across The World” pada tanggal 13 Maret 2021 lalu.

Acara yang diselenggarakan secara daring ini mengundang empat perempuan yang merupakan sosok hebat dalam sektor pariwisata. Mereka berasal dari Indonesia, Ghana, Georgia, dan Sri Lanka. Dengan mengedepankan empat nilai yang terdiri dari engage, empower, educate, dan equality, gelar wicara yang ditayangkan melalui Zoom tersebut mengajak para perempuan di industri pariwisata untuk saling mendukung dan menginspirasi agar dapat beradaptasi dan bertahan di masa pandemi. 

Alfonsa Raga Horeng merupakan pembicara yang mewakili Indonesia dalam International WTIDtalk #4. Berasal dari Maumere, Flores, Alfonsa merupakan salah satu sosok penting dalam pelestarian wastra Nusantara, khususnya tenun ikat. Wanita yang belajar menenun sejak usia 12 tahun tersebut memiliki passion untuk melestarikan kerajinan tenun khas tanah kelahirannya. Ia adalah pendiri Lepo Lorun Center “House of Weaving” yang menjadi komunitas  yang melindungi dan memberdayakan perempuan Maumere lewat kerajinan tenun ikat Flores. 

[Baca juga: 7 Destinasi Berburu Kain Tradisional Indonesia]

Sebagai pembicara pertama dalam sesi webtalkshow International WTIDtalk #4, Alfonsa yang tengah berada di Flores membuka paparannya dengan pertunjukan musik khas Flores yang ditampilkan oleh para wanita di Lepo Lorun Center. Alfonsa pun mengajak orang-orang yang berada di dekatnya untuk ikut menari dengan iringan musik tradisional Flores sembari mempertontonkan keindahan kain tenun ikat. 

 

Upaya Melestarikan Tenun Ikat di Masa Pandemi

Wisatawan mancanegara belajar menenun secara langsung di Lepo Lorun Center sebelum masa pandemi.

Komunitas Lepo Lorun Center yang menanamkan prinsip Community Based Tourism dan Ecotourism tersebut menjadi wadah serta rumah bagi para perempuan Flores yang gemar menenun. Sebelum pandemi, komunitas yang menjadikan rumah tenun sebagai markasnya tersebut dapat dikunjungi oleh wisatawan yang ingin mempelajari proses pembuatan tenun ikat Flores bersama warga lokal. Namun sayangnya, komunitas ini harus melakukan sejumlah penyesuaian pada kegiatan-kegiatannya akibat pandemi. 

Dengan misi untuk melestarikan tradisi lokal, menumbuhkan ekonomi penduduk setempat, serta memasarkan tenun ikat Flores ke pasar global, Lepo Lorun Center kini tengah mencoba untuk beradaptasi dengan kondisi pandemi melalui berbagai upaya. Salah satunya adalah dengan memanfaatkan teknologi untuk memaksimalkan pemasaran produk tenun ikat Flores hingga ke mancanegara. Upaya ini dilakukan dengan mengedepankan dua nilai penting, yaitu sustainability (keberlanjutan) dan culture (kebudayaan). 

Saat mengisi sesinya di International WTIDtalk #4, Alfonsa juga memperlihatkan karya-karya tenun ikat yang dibuat oleh para perempuan di Lepo Lorun Center. Para perempuan di Lepo Lorun Center juga terlihat begitu anggun dan bangga mengenakan pakaian tradisional Flores serta balutan tenun ikat dengan beragam motif dan warna.

 

Mimpi Penenun Indonesia

Tak hanya memperlihatkan proses tenun serta hasil kainnya, Alfonsa juga memaparkan situasi yang dijalani oleh para penenun perempuan di Indonesia. Ilmu menenun hingga saat ini masih belum diajarkan dalam pendidikan formal. Pengetahuan dan keahlian menenun hanya diwariskan secara turun-temurun oleh ibu kepada anaknya. Lepo Lorun Center juga menyadari bahwa masyarakat belum memandang status penenun sebagai sebuah profesi, melainkan hanya sebatas pengrajin. Hal tersebut adalah stigma yang ingin Alfonsa ubah dengan mendirikan komunitas tenun Lepo Lorun Center. 

Mimpi-mimpi para penenun tersebut ingin Alfonsa wujudkan melalui tujuh strategi dan upaya bernama “Women Weavers Dreams”. Tujuh strategi tersebut antara lain menjadikan kegiatan tenun sebagai sumber pendapatan berkelanjutan, mengembangkan produk dengan teknologi baru di bidang tekstil, mendapatkan hak cipta dari karya tenun ikat, memperoleh akses ke pasar yang lebih besar, mendapatkan sertifikasi, mengembangkan edukasi tenun ikat di sekolah, dan meraih dukungan dari pemerintah untuk melestarikan kearifan lokal tersebut kepada generasi selanjutnya. 

 

Setelah sesi Alfonsa Horeng berakhir, acara International WTIDtalk #4 dilanjutkan dengan sesi yang tak kalah menarik dari Doris Bill yang merupakan Sales & Marketing Manager di Eurotour Ghana Limited. Dengan pengalamannya di dunia pariwisata selama lebih dari satu dekade, Doris menjelaskan bahwa salah satu cara untuk tetap bertahan di kondisi pandemi saat ini adalah dengan berusaha untuk beradaptasi sekaligus berpikir kreatif dan inovatif. 

Setelah itu, ada pula Nino Chkhaberidze asal Georgia yang merupakan co-founder dari sebuah digital travel media bernama Sight Georgia. Nino memaparkan tantangan-tantangan yang dihadapi oleh perempuan di masa pandemi serta memberikan dukungan terhadap para perempuan, terutama bagi mereka yang bekerja di sektor pariwisata. Tak hanya itu, melalui Sight Georgia, Nino juga berusaha meyakinkan masyarakat untuk menikmati wisata domestik sebagai pilihan pariwisata di tengah masa pandemi. 

Sesi terakhir International WTIDtalk #4 menampilkan Devika de Alvis-Saelen yang merupakan sosok senior di industri perhotelan dan pariwisata. Devika yang saat ini menjabat sebagai Head of Operational di Serendib Leisure serta General Manager di Avani Bentota Resort yang berada di Sri Lanka mengungkapkan kesulitan yang tengah dialami oleh industri pariwisata negaranya. Ia juga menjabarkan sejumlah strategi penting yang harus dilakukan oleh industri perhotelan dan pariwisata untuk bisa bertahan di masa pandemi, salah satu yang terpenting adalah dengan memastikan protokol kesehatan terlaksana dengan baik dan memastikan tamu hotel tetap aman dan selamat. Menginspirasi tamu atau wisatawan agar tetap memperhatikan protokol kesehatan menjadi tentangan tersendiri bagi para pelaku industri pariwisata. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan membuat papan pengumuman atau selebaran yang berisi informasi mengenai protokol kesehatan yang baik dan benar. Meskipun sulit untuk menginspirasi banyak orang, hal ini tetap perlu dilakukan demi menjaga kesehatan dan keselamatan wisatawan juga perusahaan. 

Meski menjadi salah satu industri paling terdampak dengan adanya pandemi, para pelaku industri pariwisata harus tetap optimis dan saling mendukung agar dapat melewati masa sulit ini bersama-sama. Bagi Wegonesia yang ingin tahu lebih banyak tentang acara ini, saksikan tayangannya melalui tautan ini. Yuk, kita bangkitkan lagi semangat para pelaku industri pariwisata di Indonesia!