Akhir-akhir ini tur virtual mudah ditemukan di jagad maya, kita punya banyak pilihan untuk menelusuri hal-hal menarik yang ada di Indonesia. Meskipun PSBB di beberapa kota besar sudah mulai dilonggarkan, sekolah masih belum memulai aktivitas belajarnya. Tur virtual bisa menjadi salah satu alternatif untuk belajar dan mengenal hal-hal baru, khususnya untuk kamu yang masih bersekolah.

Beberapa waktu lalu, TelusuRI berkolaborasi dengan REFO Indonesia mengajak kita untuk “liburan” di Raja Ampat dengan Google Earth. Bersama Githa Anathasia, CEO, Arborek Dive Shop saya diajak berkeliling kepulauan Raja Ampat, menelusuri dunia bawah laut, mengamati burung liar, hingga membuat kerajinan bersama masyarakat lokal di sana.

Raja_Ampat_Wego_Pelabuhan_Sorong
Pelabuhan Sorong

Raja Ampat sendiri dapat dituju dari Pelabuhan Sorong. Dengan kapal ferry, perjalanan ditempuh sekitar 2 jam perjalanan hingga sampai ke Waisai: gerbang masuk Raja Ampat. TIketnya mulai Rp100.000 untuk kelas ekonomi hingga Rp250.000 untuk kelas VIP per orang untuk sekali jalan.

Menelusuri Raja Ampat Selatan: Waisai dan Misool

Raja_Ampat_Wego_Misool
Foto udara Laguna Karwapop di Misool yang juga dikenal dengan sebutan Love Lagoon.

Untuk kamu yang sudah booking perjalanan dengan operator tur, biasanya para pemandu akan menjemput di Waisai. Kalau ketengan, kamu bisa jalan-jalan dulu di sekitar pelabuhan untuk menikmati hari di Waisai. Githa bilang, kulineran di Pantai WTC patut dicoba karena banyak sekali makanan yang lezat di sini khususnya ikan-ikan bakar “sekali mati” atau ikan segar dari laut.

Dari Waisai, Githa kemudian mengajak berkeliling Misool. Gugusan pulau di selatan Raja Ampat ini, bisa ditempuh langsung dari Sorong menggunakan ferry dengan durasi penyeberangan sekitar 6 jam. Ferry dengan tujuan Misool ini hanya punya 3 kali jadwal penerbangan dalam satu minggu.

Meskipun sudah ada homestay, namun jarak homestay ke diving/snorkeling spot cukup jauh. Dan karena kondisi geografis di sini agak berbeda dengan Raja Ampat bagian utara, disarankan menggunakan liveaboard atau speed boat charter saat mengunjungi Misool.

Danau Ubur-Ubur Raja Ampat
Matigias papua adalah salah satu spesies ubur-ubur yang dapat ditemukan di Misool, Raja Ampat.

Ada beberapa tempat yang bisa dikunjungi di Misool seperti Balbulol, Goa Keramat, Puncak Puncak Harfat Jaya, Danau Ubur-Ubur Lenmakana, Puncak Dafalen, dan Pindito. Nah, kalau mau ke Misool pastikan datang di waktu yang tepat yakni sekitar bulan Oktober – Maret.

Keliling Raja Ampat Utara

Pianemo
Pemandangan dari dek observasi Pianemo

Setelah keliling Raja Ampat bagian selatan, Githa membawa berkeliling Raja Ampat bagian utara. Tempat yang kali pertama dituju yakni Piaynemo, gugusan karang yang terletak di Kepulauan Fam. Oh ya, banyak yang bilang Piaynemo versi mini dari Wayag.

Tahun 2019 lalu Geowisata Piaynemo mendapat anugrah Green Gold ISTA, penghargaan untuk destinasi yang mengusung sustainable tourism, di mana roda pariwisata digerakkan oleh masyarakat lokal. Tak hanya itu, ternyata di sini terdapat ssebuah kampung penghasil virgin coconut oil dan sabun dari kelapa yang mendukung Piaynemo mendapatkan award tersebut, Kampung Fam namanya.

Dari Piaynemo perjalanan dilanjutkan ke Melissa’s Garden. Di sini kita bisa diving, namun kalau nggak punya lisensi menyelam, dengan snorkeling aja bisa melihat-lihat hamparan karang, hiu, dan kalau beruntung bisa melihat manta.

Raja_Ampat_Wego_Manta_Ray
Manta di perairan Raja Ampat

Selain Melissa’s Garden, Githa mengajak kita “diving” di Cape Kri, dive site terbaik nomor 5 di dunia ini terkenal dengan 374 ikan dalam satu kali penyelaman. Warna-warni terumbu karangnya begitu memanjakan mata, meski hanya dilihat dari layar kaca. Yang unik dari Raja Ampat adalah, kita bisa melihat dua jenis spesies manta di satu tempat yang sama. Siapa tau lagi beruntung, kamu bisa bertemu manta di sini.

“Pulang” ke Arborek

Raja_Ampat_Wego_arborek_island
Foto udara Pulau Arborek

Arborek merupakan tempat tinggal Githa. Kalau dilihat dari Google Earth, Arborek ini pulaunya besar. Padahal aslinya, kalau kita ke sana hanya membutuhkan waktu 5 – 10 menit untuk mengelilingi pulaunya. Selain diving dan snorkeling, kita bisa ikut membuat kapowen—topi yang dibuat dari pandan laut oleh mama-mama pengrajin di sana. Homestay di Arborek juga sudah cukup banyak, harganya bervariasi mulai dari Rp400.000 per malam per orang sudah termasuk makan 3 kali sehari.

Semasa pandemi ini, Arborek berbenah. Alam memulihkan dirinya, laut terlihat lebih biru, karang-karang yang patah mulai tumbuh kembali, ikan-ikan lebih banyak datang ke jetty. Harapannya Githa, ketika pandemi selesai nanti, saat orang-orang mulai traveling lagi, jangan sampai mereka seperti orang kelaparan yang bar-bar saat traveling. Tetap harus menjaga lingkungan dan tidak merusak fasilitas apapun yang ada.

Birdwatching di Kampung Sawinggrai dan Saporkren

Raja_Ampat_Wego_cendrawasih
Cendrawasih, hewan maskot Papua.

Dari Arborek, Githa mengajak menelusuri Kampung Sawinggrai di Pulau Gam untuk mengamati burung-burung liar di sini. Bisa ditempuh sekitar 10 menit dari Arborek. Di sini ada dua orang pemandu lokal yang akan memandu perjalanan mengamati burung. Salah satu burung yang bisa diamati adalah cenderawasih merah. Nah, untuk mengamati burung di sini kita harus tiba sebelum pagi, sekitar pukul 3 atau 4 pagi sebelum sunrise tiba.

Selain Sawinggrai, pengamatan burung juga bisa dilakukan di Saporkren. Di sini kita bisa melihat dua jenis cendrawasih sekaligus yakni cendrawasih merah (Red Bird Paradise) dan cendrawasih belah rotan (Cendrawasih Wilson).

Kali Biru

Raja_Ampat_Wego_Kali_Biru
Kali Biru, Raja Ampat.

Misal kita hanya punya waktu terbatas di Waisai, Githa menyarankan untuk ke Kali Biru saja. Uniknya, selain air kalinya berwarna biru, air di sini adalah air tawar. Padahal Kali Biru berada di dekat teluk. Masyarakat setempat menyebut Kali Biru dengan nama Waiyal, wai artinya air, dan yal berarti apa yang terjadi besok. Konon katanya Kali Biru ini satu tempat yang bisa meramalkan apa yang akan terjadi hari esok.

Seru sekali 90 menit melakukan perjalanan ke Raja Ampat bersama Githa. Rasanya nggak sabar pengen segera ke laut!

Artikel ini adalah kerja sama Wego dengan TelusuRI. Baca cerita seru lainnya seputar Indonesia di situs TelusuRI.

Tentang Travel Blog Wego Indonesia:

Download App Wego

Travel Blog Wego Indonesia adalah media daring milik Wego Indonesia yang menyajikan informasi seputar perjalanan, ditulis oleh tim redaksi dan kontributor. Saat ini  didukung kanal media sosial Wego ID di TwitterFacebook, dan Instagram.

Wego sendiri adalah situs dan aplikasi pembanding harga tiket pesawat serta hotel. Wego menyajikan informasi harga dari ratusan situs agen wisata, maskapai, dan jaringan hotel dunia, dalam satu tampilan sederhana. Dengan menggunakan Wegomencari tiket pesawat dan hotel sesuai bujet dan preferensi akan lebih cepat dan mudah!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *