Kota-Kota dengan Perayaan Lebaran Unik

Halo Wegonesia, Lebaran tahun ini tentu sudah salat Id dan mengunjungi rumah tetangga serta sanak saudara sambil bersalam-salaman, ‘kan? Banyak juga yang melakukan tradisi mudik dan berjumpa dengan makanan, kebiasaan, dan perayaan Lebaran di kampung halaman. [Baca juga: Jalur Mudik dengan Pemandangan Paling Cantik] Sebagai negara kaya budaya dengan mayoritas penduduk muslim, setiap daerah di Indonesia punya tradisi Lebaran yang berbeda. Tidak jarang tradisi tersebut berupa perayaan atau festival Lebaran yang unik. Kota mana saja, ya, yang punya tradisi Lebaran meriah? Berikut beberapa di antaranya:

 

Festival Meriam Karbit – Pontianak

Kota dengan Festival Lebaran Unik - Festival Meriam Karbit, Pontianak
Foto: Stephanie Santosa

Untuk menyambut Lebaran, masyarakat Pontianak mengadakan festival unik bernama festival meriam karbit. Mulai H-1 hingga H+2 Lebaran, ratusan meriam yang telah dihias akan disulut di tepi Sungai Kapuas. Meriam dengan panjang 6 meter dan diameter 50 cm tersebut akan menghasilkan suara ledakan yang bisa terdengar hingga radius 5 km. Tradisi ini sudah berlangsung sejak masa Kesultanan Kadriah Pontianak pada abad ke-18. Kini, festival meriam karbit Pontianak telah ditetapkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sebagai salah satu Warisan Budaya Tak Benda Indonesia.

 

Grebeg Syawal – Yogyakarta

Kota dengan Festival Lebaran Unik - Grebeg Syawal, YogyakartaTradisi Lebaran unik lainnya terdapat di Yogyakarta. Setiap hari pertama Idulfitri (1 Syawal), Grebeg Syawal diadakan di Alun-alun Utara Keraton Yogyakarta. Festival ini dilaksanakan sebagai pemberian Sultan kepada rakyatnya dengan mengarak sebuah gunungan raksasa yang berisi sayuran dan berbagai hasil bumi. Selanjutnya, masyarakat akan memperebutkan gunungan tersebut. Masyarakat percaya, bagi yang mendapatkan hasil bumi dari gundukan tersebut bisa mendapatkan berkah dan kesejahteraan.

 

Lebaran Topat – Lombok

Kota dengan Festival Lebaran Unik - Lebaran Topat, Lombok
Foto: ardy_ahmaad

Di Lombok terdapat sebuah tradisi Lebaran unik yang biasa dilaksanakan 6 hari setelah Idulfitri, yaitu Lebaran Topat atau Lebaran Ketupat. Dalam agama Islam terdapat ajaran mengenai puasa Syawal, yakni puasa selama 6 hari setelah puasa Ramadan. Perayaan Lebaran Topat dilakukan sebagai rasa syukur berakhirnya puasa sunah tersebut. Nama topat sendiri diambil dari ketupat yang menjadi hidangan khusus masyarakat Lombok pada perayaan Lebaran kedua setelah Idulfitri tersebut.

Pada perayaan ini, masyarakat adat Sasak biasanya melakukan ziarah ke makam para wali di Makam Bintaro, Pantai Bintaro dan Makam Loang Baloq, Pantai Tanjung Karang. Mereka biasanya membawa perbekalan makanan berupa ketupat, pelalah ayam, daging, opor telur, pakis, paku, urap-urap, serta pelecing kangkung yang kemudian dimakan beramai-ramai di halaman pemakaman. Perbekalan tersebut menjadi haul dan bentuk syukur terhadap Tuhan dari mereka yang telah mendapat rezeki dan kesuksesan.

 

Ngejot – Bali

Kota dengan Festival Lebaran Unik - Ngejot, Bali
Foto: LAKEY BANGET

Tradisi unik lainnya datang dari Pulau Dewata. Tradisi ini disebut ngejot, yaitu tradisi memberikan makanan kepada para tetangga sebagai rasa terima kasih. Ngejot dilakukan oleh umat Hindu saat Hari Raya Galungan, Nyepi, dan Hari Raya Kuningan, sedangkan umat Islam melaksanakannya menjelang Hari Raya Idulfitri. Umat Islam di Desa Pegayaman, Buleleng melestarikan tradisi ini dengan memberikan makanan khas Lebaran seperti opor ayam ataupun makanan siap saji lainnya, seperti kue dan buah-buahan.

 

Festival Tumbilotohe – Gorontalo

Kota dengan Festival Lebaran Unik - Festival Tumbilotohe, Gorontalo
Foto: azan_dbackbone

Tumbilotohe merupakan tradisi memasang lampu tiga hari menjelang Idulfitri di Gorontalo. Tradisi yang telah berlangsung sejak abad ke-15 ini awalnya bertujuan sebagai penerang dari rumah menuju masjid saat perkampungan di Gorontalo belum dialiri listrik. Dahulu, masyarakat menggunakan damar dan getah pohon sebagai bahan bakar lampu yang terbuat dari seludang (daun pelindung berukuran besar pada pohon kelapa) yang dihaluskan dan diruncingkan. Kini, mereka telah beralih menggunakan bahan bakar berupa minyak tanah. Seiring perkembangan zaman pula tradisi ini dijadikan sebuah festival yang menarik sebagai simbol berakhirnya Ramadan dan datangnya Idulitri. Dalam festival tersebut masyarakat mulai membuat lampu-lampu yang membentuk tulisan, kaligrafi, bahkan gapura. [Baca juga: Melihat Gemerlap Tradisi Tumbilotohe di Gorontalo]

 

Binarundak – Sulawesi Utara

Kota dengan Festival Lebaran Unik - Binarundak, Sulawesi Utara
Foto: jms.mrrsn

Warga Kotamobagu, Sulawesi Utara memiliki tradisi unik dalam merayakan Lebaran. Tradisi ini bernama Binarundak. Nama tersebut diambil dari nama makanan yang dihidangkan, yaitu bambu berisi nasi jaha atau beras ketan yang dicampur santan dan jahe, serta beralaskan daun pisang. Binarundak biasanya dirayakan oleh warga perantau pada hari ke-3 Lebaran. Para perantau akan membakar binarundak secara massal di sepanjang jalan depan rumah mereka atau di lapangan terbuka yang dilanjutkan dengan makan bersama. Kegiatan ini juga menjadi ajang reuni serta silaturahmi bagi para perantau dengan sahabat lama.

 

Meugang – Aceh

Kota dengan Festival Lebaran Unik - Meugang, Aceh
Foto: Banda Aceh

Berbeda dari daerah lainnya, Aceh memiliki tradisi unik yang tidak hanya saat Lebaran melainkan juga saat menjelang Ramadan. Tradisi tersebut adalah meugang atau makmeugang, yakni membeli daging, memasak, dan memakannya bersama keluarga. Tidak jarang bagi yang memiliki rezeki lebih untuk membeli daging dalam jumlah banyak ataupun menyembelih sapi atau kambing sendiri untuk dibagikan kepada anak yatim atau tetangga yang kurang mampu. Meugang diperingati satu atau dua hari menjelang Ramadan dan sehari menjelang Idulfitri. Selain itu, meugang juga diperingati sehari sebelum Iduladha.

 

Pukul Sapu – Maluku Tengah

Kota dengan Festival Lebaran Unik - Pukul Sapu, Maluku Tengah
Foto: iNews TV Ambon

Setiap hari ke-7 Lebaran (7 Syawal), warga Maluku di Desa Mamala dan Desa Morella, Maluku Tengah menggelar tradisi Pukul Sapu. Pukul Sapu menampilkan aksi dua kelompok beranggotakan masing-masing 20 orang menyabetkan lidi enau ke bagian badan lawannya selama sekitar 30 menit. Mereka biasanya menggunakan celana dan ikat kepala dengan warna seragam.

Tradisi ini berasal dari peristiwa masa penjajahan Portugis dan VOC abad ke-16 di Maluku. Saat itu, Kapiten Telukabessy dan pasukannya bertempur untuk mempertahankan Benteng Kapapaha dari serbuan penjajah tetapi gagal. Untuk menandai kegagalan tersebut, pasukan Telukabessy mengambil lidi enau dan saling mencambuk hingga berdarah. Meski terlihat menegangkan, tradisi ini justru dipandang sebagai alat untuk mempererat tali persaudaraan antara masyarakat kedua desa.

 

Makan Bedulang – Bangka

Kota dengan Festival Lebaran Unik - Makan Bedulang, Bangka
Foto: KitaINA

Tradisi Lebaran Bedulang di Bangka merupakan tradisi di mana warga berkumpul untuk makan bersama seusai salat Id. Nama bedulang sendiri berarti tudung saji. Di balik tudung saji inilah terdapat berbagai jenis makanan untuk dimakan bersama. Umumnya, terdapat paling tidak enam menu makanan khas Bangka seperti tumis rebung, tumis keladi, jelapan, lempah kuning ikan kakap, ikan jebung bakar, lempah kulat pelawan, sambal belacan, serta jus madu.

 

Nah, itulah beberapa tradisi dan festival Lebaran unik yang ada di sejumlah daerah di Indonesia. Bagaimana dengan di kampung halamanmu? Apakah punya tradisi unik? Ceritakan di kolom komentar, ya!

Baca juga:

– Lebaran Orang Betawi Belum Afdol Tanpa Dodol

– Jalur Mudik dengan Pemandangan Paling Cantik

– Mudik ke Jambi, Ini 5 objek wisata yang wajib dikunjungi