Destinasi Wisata Berdasarkan Lokasi Syuting Film

Inspirasi Destinasi Wisata dari Lokasi Syuting Film Indonesia

Halo Wegonesia! Film Indonesia saat ini banyak sekali mengulas tentang berbagai tempat-tempat menarik di tanah air, sehingga kerap kali menjadi inspirasi untuk liburan kita ya. Bukan hanya masyarakat Indonesia, bahkan perusahaan asing seperti Columbia Pictures pun pada tahun 2010 silam tertarik untuk memproduksi film Eat, Pray, Love di Pulau Dewata, Bali.

Tak hanya Bali, wisatawan internasional juga banyak yang tertarik untuk mengunjungi kota-kota menarik lainnya seperti Yogyakarta, Sumba, hingga Bangka Belitung karena menyaksikan keindahan alamnya melalui karya-karya yang diproduksi oleh produser, sutradara, dan seniman anak bangsa lho.

Kerap kali scene film Indonesia menunjukan destinasi-destinasi wisata menawan di seluruh Indonesia. Meski begitu, masih ada banyak sekali tempat-tempat yang memiliki daya tarik wisata dari Sabang sampai Merauke untuk kita eksplor.

Kira-kira, destinasi wisata apa saja ya yang pernah jadi lokasi syuting perfilman di Indonesia?

 

1. Studio Gamplong Sleman

Suasana studio Gamplong Sleman yang dipenuhi pengunjung. Foto: Shutterstock.com

Siapa, sih, yang tidak mengenal film-film karya Hanung Bramantyo? Sebut saja Habibie dan Ainun 3 yang diperankan Maudy Ayunda, Reza Rahardian, dan Jefri Nichol. Ada juga film Bumi Manusia yang diperankan oleh Iqbal Ramadhan dan Mawar Eva. Kedua film tersebut berhasil menarik perhatian banyak penonton, dan fakta menariknya kedua film ini melakukan syuting di studio Gamplong ini, lho, Wegonesia!

Studio Gamplong belakangan ini menjadi tempat yang banyak sekali didatangi pengunjung. Pasalnya, studio yang dibangun oleh sutradara Hanung Bramantyo ini menjadi latar belakang film-film Indonesia yang sukses di dalam dan luar negeri.

Menawarkan berbagai bangunan unik di era kolonialisme hingga modern, Studio Gamplong Alam ini banyak dikunjungi wisatawan yang penasaran akan tempat produksi film karya Hanung Bramantyo. Untuk masuk ke studio yang dijuluki “Little Hollywood” ini, Wegonesia hanya perlu membayar secara sukarela. Tetapi untuk menaiki kereta api dan memasuki Museum Habibie dan Ainun, Wegonesia perlu merogoh kocek sebesar Rp5.000 rupiah saja. Selain itu, untuk memasuki Museum Bumi Manusia dan Galery Antiques & Ruang Rahasia, wisatawan wajib membayar Rp10.000 rupiah.

Studio Gamplong ini juga memiliki protokol kesehatan yang ketat selama pandemi, untuk dapat berkunjung ke sini, Studio Gamplong akan dibuka hari Selasa hingga Minggu pukul 08.00-17.00 WIB. Sangat disayangkan studio ini tidak beroperasi di hari Senin, ya. Setelah lelah berkeliling Studio Gamplong, Wegonesia dapat beristirahat di Villa Sunset yang jaraknya 30 menit berkendara lalu menikmati indahnya matahari terbenam dari villa tersebut.

2. Asia Afrika Bandung

Kondisi jalan Asia Afrika yang padat transportasi. Foto: Shutterstock.com

Berkunjung ke Bandung tidak lengkap rasanya kalau tidak menyusuri Jalan Asia Afrika. Wegonesia pasti sudah pada tahu, ‘kan, kalau Jalan Asia Afrika yang terletak di pusat kota Bandung ini merupakan salah satu lokasi syuting di film Dilan 1990 dan Dilan 1991?

Jalan Asia Afrika ini selalu padat akan wisatawan lokal maupun internasional karena lokasinya yang strategis dan berdekatan dengan lokasi wisata lainnya. Fakta menariknya, adegan berkendara Dilan dan Milea yang ikonik itu mengambil spot di jalan Asia Afrika, lho, Wegonesia.

Selain film Dilan 1990 ada juga film Preman Pensiun yang syuting di Jalan Asia Afrika. Sebelum dijadikan film, Preman Pensiun awalnya diproduksi dalam bentuk sinetron. Lalu karena rating yang selalu meningkat dan dukungan dari masyarakat serta pemerintah kota Bandung, akhirnya Preman Pensiun diproduksi sebagai film dengan banyak adegan yang berlatar belakang di Jalan Asia Afrika.

Jalan Asia Afrika sendiri terbuka untuk umum. Terdapat banyak sekali spot foto yang Instagramable di sekitar Gedung Merdeka yang merupakan tempat berlangsungnya Konferensi Asia Afrika pada tahun 1955. Saat ini, Gedung Merdeka telah beralihfungsi menjadi museum.

Pemandangan malam Jalan Asia Afrika juga sangat indah, Wegonesia! Yuk, coba menatap kerlap-kerlip lampu malam jalan Asia Afrika dari Hotel Mercure Bandung, kamu bisa berenang dan menatap “hidupnya” kota Bandung dari hotel ini.

3. Kampung Warna-Warni Malang

Gang di pemukiman kampung warna warni Malang. Foto: Akhmad Doddy Firmansyah

Film Yowis Ben merupakan salah satu film Indonesia yang mengangkat budaya Malang. Bahasa yang digunakan dalam film ini juga banyak menggunakan bahasa Malangan yang khas. Film drama komedi yang dibintangi oleh Bayu Skak, Brandon Salim, Joshua Suherman, dan Tutus Thomson ini mengambil lokasi syuting di Kampung Warna-Warni Malang.

Mulai dari season 1, season 2, Yowis Ben the Series, hingga Yowis Ben 3 yang akan segera dirilis, semuanya menggambil latar belakang di Kampung Warna-Warni di kota Malang.

Kampung Warna-Warni ini dijadikan kampung halaman dan tempat tinggal bagi Bayu Skak yang berperan sebagai Bayu, Joshua Suherman yang berperan sebagai Doni, dan Tutus Thomson yang berperan sebagai Yayan.

Tak kalah keren dibanding destinasi wisata dengan bangunan warna warni di Brazil atau Venice, kampung warna warni malang wajib masuk bucket list kamu juga, lho. Kamu cukup membayar Rp3.000 rupiah saja untuk berkeliling kampung warna-warni ini. Wegonesia bisa berfoto-foto dan berinteraksi langsung dengan penduduk kampung yang ramah. Mereka juga menjajakan berbagai oleh-oleh unik khas Malang. Lokasinya yang berada dekat dengan Sungai Brantas mudah sekali ditemukan bila Wegonesia sedang berkunjung ke Malang! Berada dekat dengan Kampung Warna-Warni, Wegonesia dapat menginap di  Hotel Tugu Malang yang mewah dan mengesankan.

 

4. Pepohonan Rindang di Hutan Djawatan Banyuwangi

Pepohonan yang berumur 150 tahun di Djawatan Banyuwangi. Foto: Shutterstock.com

Selain di kota Malang, tim produksi Yowis Ben Season 3 juga memilih lokasi syuting di Hutan Djawatan. Produser Fajar Nugros dan juga Bayu Skak berharap dipilihnya lokasi Hutan Djawatan sebagai salah satu latar belakang di Yowis Ben 3 dapat membantu tempat wisata ini dikenal lebih luas lagi oleh masyarakat domestik maupun internasional.

Hutan Djawatan di Banyuwangi ini dianggap pengunjung mirip sekali seperti di film Lord of The Rings, lho, Wegonesia. Ada sekitar 805 pepohonan di hutan ini yang rata-rata berusia 100-150 tahun. Hutan Djawatan ini mulai dibuka sebagai tempat wisata di tahun 2018.

Sempat ditutup selama pandemi, saat ini Pemerintah Kabupaten Banyuwangi membuka kembali dengan pembatasan pengunjung sampai 500 orang. Pemerintah juga menetapkan peraturan waktu kunjungan untuk mengatasi lonjakan pengunjung, wisata Djawatan mulai beroperasi pada pukul 08.00 hingga 17.00 WIB.

Lelah setelah berkeliling Banyuwangi, menginap di éL Hotel Royale Banyuwangi adalah pilihan yang tepat buat Wegonesia! Kamu bisa beristirahat dengan nyaman dan menikmati pelayanan spa di éL Hotel Royale Banyuwangi.

Itu dia, Wegonesia, beberapa lokasi syuting film yang dapat kamu kunjungi di Indonesia! Jadi semakin penasaran untuk melihat langsung lokasi film Bumi Manusia atau semakin penasaran dengan film Yowis Ben 3 yang syuting di hutan Djawatan? Yuk dukung perfilman Indonesia dengan menonton secara legal! Kunjungi juga destinasi-destinasi di atas bila Wegonesia ingin merasakan langsung suasana seperti di dalam film serta membantu perekonomian lokal.

Mulai rencanakan perjalananmu sekarang dengan pesan tiket murah dari maskapai penerbangan tepercaya dan penginapannya hanya di Wego. Dengan begitu Wegonesia tidak hanya mendukung industri perfilman Indonesia, tapi juga ikut serta membantu pariwisata Indonesia yang terdampak pandemi.

__

Tentang Travel Blog Wego Indonesia