Candi Cetho, Mahakarya Filosofis Sarat Misteri dari Gunung Lawu

Sobat Wegonesia, sudah punya bucket list untuk liburan panjang berikutnya? Kalau belum, mungkin kamu harus notice Karanganyar sebagai destinasi kota yang harus kamu pijak selanjutnya. Ada banyak rekomendasi tempat hits, makanan, serta legend stories yang menarik dari salah satu kabupaten di Jawa Tengah tersebut. Jika teman-teman tertarik dengan urban legend, mungkin Candi Cetho adalah tujuan yang bikin Wegonesia makin penasaran untuk berwisata dengan tema sejarah Nusantara. 

Candi Cetho adalah salah satu situs peninggalan di Pulau Jawa dan merupakan salah satu candi tertinggi di Indonesia. Posisinya terletak di lereng sebelah barat Gunung Lawu. Mungkin Wegonesia ada yang penasaran, kenapa, ya, sebuah situs peninggalan selalu berada di dataran tinggi? Ini dia jawabannya: Kepercayaan animisme dan dinamisme yang sudah ada sejak zaman pra-Hindu meyakini bahwa benda pusaka dan roh nenek moyang/leluhur bisa menjaga peradaban manusia. Sejak saat itu, segala yang ada di gunung adalah tempat yang sakral karena posisinya berada di dataran tinggi dekat yang dengan langit. Candi ini adalah peninggalan Kerajaan Majapahit di masa akhir kekuasaan Raja Prabu Brawijaya V. 

[Baca juga: Rumah Atsiri, Hidden Gem Karanganyar yang Dulunya Pabrik Citronella]

Sejarah  Candi Cetho 

Candi Cetho ditemukan pertama kali oleh Van Der Vlies pada tahun 1842. Penelitian tentang Candi Cetho kemudian diteruskan oleh W.F Stutterheim, K.C Crucq dan A.J. Bernet Kempers. Ketika ditemukan, Candi Cetho memiliki belasan teras/punden bertingkat, sampai akhirnya mengalami restorasi besar-besar oleh pemerintah pada tahun 1970 menjadi 9 teras/punden tingkat. 

Secara filosofis, arti dari nama Cetho adalah nyata atau jelas. Jelas secara pandangan manusia dan nyata secara gaib. Pada sudut pandang manusia,  selain cuaca yang sangat sejuk, Candi Cetho memperlihatkan kepada kita pemandangan indahnya dua daerah yaitu Karanganyar dan Solo dari ketinggian 1.496 meter. Sungguh pemandangan yang mengesankan!

Selain masih menjadi jalur pendakian, tempat ini masih digunakan untuk peribadatan masyarakat Hindu di sekitaran Karanganyar dan juga kepercayaan masyarakat Kejawen. Candi Cetho selalu menjadi tempat favorit bagi para kaum spiritualis. Bersemedi di Candi Cetho dipercaya bisa memberikan energi batin positif bagi siapa saja yang meyakini. Sejumlah orang juga melihat ritual ini sebagai syarat sebelum naik ke Gunung Lawu. 

 

Arti Mitos Punden Candi Cetho

Komplek pintu masuk Candi Cetho. Foto: Shutterstock.com

Pemandangan pertama yang akan teman-teman jumpai ketika masuk ke komplek Candi Cetho adalah halaman yang sangat luas serta pendopo yang berada di teras tingkat pertama untuk meletakkan sesaji. Adalah sebuah kesempatan langka jika teman teman datang saat umat Hindu sedang beribadah di Candi Cetho. Selanjutnya di punden tingkat kedua, Wegonesia akan melihat langsung Petilasan Ki Ageng Krincing Wesi. Beliau dipercaya sebagai leluhur masyarakat di sekitaran Desa Cetho. Ketika sampai di teras ketiga dari Candi Cetho, teman teman dapat melihat penampakan batu yang jika dari atas berbentuk Garuda yang merupakan representasi kendaraan Dewa Wisnu. Arti simbol literatur ini menggambarkan pemeliharaan atau sebagai pelindung alam semesta. Sedangkan arca yang berbentuk kura-kura adalah representasi Dewa Wisnu itu sendiri. Secara keseluruhan, arti simbol ini adalah menjaga tanah Nusantara. 

Ketika sampai pada teras/punden keempat, relief-relief hasil peninggalan masyarakat zaman dulu akan menyambut teman-teman. Rangkaian relief tersebut adalah simbol literatur yang menceritakan Dewi Huma, istri Dewa Siwa yang melakukan pelanggaran kepada semesta lalu berubah menjadi raksasi bernama Bathari Durga. Cerita ini berasal dari cerita Sudamala dari Kitab Mahabarata. 

Bangunan-bangunan dari kayu tempat pertapaan. Foto: Shutterstock.com

Di teras kelima dan keenam ada dua pendopo yang berada di sisi kanan dan kiri. Kedua tempat ini juga biasa digunakan untuk acara peribadatan ataupun tempat istirahat wisatawan untuk sekadar duduk di pelataran. Ketika sampai di sini, Wegonesia harus menjaga perilaku serta tutur kata, ya. Hal ini penting sekali karena Candi Cetho adalah tempat yang sakral. Tentunya kamu juga tidak boleh membuang sampah sembarangan. Bagi wisatawan perempuan, pastikan sedang tidak datang bulan ketika mengunjungi Candi Cetho, ya.

Teras ketujuh Candi Cetho memiliki dua arca sangat menarik, yaitu arca Ki Noyo Genggong dan Ki Sabdo Palon yang dipercaya masyarakat sebagai tokoh penasihat spiritual yang sangat berpengaruh pada masa kejayaan Raja Prabu Brawijaya V.

Di teras kedelapan ada arca Prabu Brawijaya V dan di sebelah kiri Candi Cetho, ada arca yang berbentuk Phallus (kelamin laki-laki). Mungkin terkesan vulgar, tetapi konsep Lingga Yoni melambangkan kesuburan dan pengharapan akan berkah alam semesta selalu melimpah ruah. Di sisi lain, Lingga Yoni dengan filosofi yang sarat makna ini menambah daya pikat Candi Cetho, di mana candi ini menggambarkan posisi perempuan secara seksual lebih tinggi derajatnya dari laki- laki. Kunjungan ke Candi Cetho juga dapat menjadi pembelajaran bahwa edukasi seksual sebenarnya sudah ada sejak zaman dulu dan menambah kesadaran kita akan alam semesta dan Sang Pencipta.

Suasana pelataran di tingkat ke 9 candi Cetho. Foto: Shutterstock.com

Teras kesembilan yang merupakan bagian utama Candi Cetho tidak boleh dikunjungi oleh sembarang orang. Tempat yang berukuran 2 meter persegi ini hanya dikhususkan untuk umat beragama Hindu, yang berkunjung ke Candi Cetho untuk beribadah. Selain itu juga ada tempat khusus untuk penyimpanan barang-barang kuno. 

Harga Tiket Masuk dan Fasilitas Candi Cetho

Patung Nayagenggong di Candi Cetho. Foto: Shutterstock.com

Untuk masuk Candi Cetho, Wegonesia hanya perlu membayar Rp10.000 untuk wisatawan domestik dan Rp30.000 untuk wisatawan mancanegara. Jam buka tempat wisata ini setiap hari di jam 08.00 pagi sampai jam 17.00 WIB. Untuk fasilitas yang ada di kompleks candi ini cukup lengkap. Ada area parkir motor dan mobil. Di sepanjang jalan di luar kompleks gapura, tersedia penjual makanan dan penginapan. Menikmati sejuknya kaki gunung Lawu sambil mempelajari sejarah agama Hindu di Jawa mungkin akan menjadi pengalaman wisata religi yang bisa menenangkan hati dan menambah pengetahuan, ya.

Semoga informasi ini bermanfaat, ya,Wegonesia ya. Jangan lupa untuk membaca tips perjalanan di website serta akun Instagram Atourin. Karena pandemi jadi #dirumahaja, tapi udah pengen liburan, yuk ikuti rangkaian acara virtual traveling bareng Atourin untuk menjawab bucket list perjalanan kamu selanjutnya. Sampai jumpa, Wegonesian. Selamat jalan-jalan dan bertualang! 

 

Tentang Travel Blog Wego Indonesia

Travel Blog Wego Indonesia adalah media daring milik Wego Indonesia yang menyajikan informasi seputar perjalanan, ditulis oleh tim redaksi dan kontributor. Saat ini  didukung kanal media sosial Wego ID di TwitterFacebook, dan Instagram.

Wego sendiri adalah situs dan aplikasi pembanding harga tiket pesawat serta hotel. Wego menyajikan informasi harga dari ratusan situs agen wisata, maskapai, dan jaringan hotel dunia, dalam satu tampilan sederhana. Dengan menggunakan Wego, mencari tiket pesawat dan hotel sesuai bujet dan preferensi akan lebih cepat dan mudah!

Punya cerita menarik tentang tempat asal kamu? Atau ingin berbagi tips seputar liburan dan jalan-jalan? Kirim ke [email protected] supaya lebih banyak orang bisa membaca tulisanmu!